Asal Usul Selat Bali | Cerita Rakyat Bali

Asal Usul Selat Bali | Cerita Rakyat Bali 1

Asal Usul Selat Bali | Cerita Rakyat Bali

Dahulu kala di kerajaan Daha,
hiduplah seorang brahmana sakti
bernama Sidi Mantra.
Dia terkenal tekun dalam bersemedi.
“ Wahai Sidi Mantra,
ku perhatikan kau begitu tekun dalam bersemedi.
aku akan memberimu harta
yang berlimpah sebagai hadiah.
Dan karena kau juga tidak bisa
memiliki keturunan,
maka ku anugrahi seorang anak.
terimalah manik merah ini.”
Dari manik tersebut terpancar cahaya
dan berubah menjadi seorang bayi laki-laki
yang kemudian diberi nama yaitu
Manik Angkeran.
Sidi Mantra sangat bersukacita.
Manik Angkeran selalu diperhatikan dan dimanja. 
Asal Usul Selat Bali | Cerita Rakyat Bali 2
 
Apa yang di inginkanya selalu dipenuhi.
Berjalanya waktu,
Manik Angkeran tumbuh menjadi
seorang pemuda yang gagah.
Namun, dia memiliki sifat
yang berbeda dengan ayahnya.
Dia sangat gemar berjudi sabung ayam.
Sehari-hari hanya berjudi.
Dia tak pernah tinggal diam di rumah.
Dimana ada perjudian
disitu pasti ada Manik Angkeran.
Tapi sayang,
keberuntungan tak pernah berpihak padanya.
Setiap kali berjudi ia selalu kalah
dan meninggalkan hutang.
Kini semua harta telah habis tak bersisa.
Ditambah lilitan hutang yang sangat banyak
membuat Manik Angkeran secara diam-diam
mengambil harta yang di simpan orang tuanya.
Dia yakin dengan harta tersebut
semua hutang nya dapat terlunasi
dan sisanya bisa digunakan kembali untuk berjudi. 
 
 
Seakan tak pernah jera, dia berjudi lagi dan kalah lagi.
Begitu terus hingga semua harta milik orang tuanya habis.
Kini hidup Manik Angkeran jauh dari kata tenang
karena selalu di kejar oleh penagih hutang.
Suatu hari Mpu Sidi Mantra bermaksud
mengambil sejumlah harta
di tempat penyimpanan tersebut.
“ Hahhhh… Dimana semua hartaku ?
Kenapa bisa kosong seperti ini ?”
“ Mma… Maafkan aku ayah !
aku telah menggunakanya untuk berjudi.
“ Kau ini yaa! Sudah ku peringatkan berkali-kali,
jangan suka berjudi.
” Saat ini aku perlu uang
untuk membayar semua hutangku.”
” Aku tidak memiliki harta sepeserpun
karena sudah kau habiskan !”
“ Tooloong… Bantu aku ayah!
Kalau aku tidak bisa membayar hutang
mereka akan meghabisiku.”
” Baiklah, kali ini aku akan mencari
petunjuk untuk membantumu. “
Demi sang anak, Sidi Mantra pergi bersemedi
untuk memohon petunjuk dari para dewa.
“ Sidi Mantra !
pergilah ke Gunung Agung. 

Asal Usul Selat Bali | Cerita Rakyat Bali

 
Disana kau akan menemukan harta yang di jaga
oleh naga yang bernama Naga Besukih.
Gunakan genta ini untuk memanggilnya.”
Berangkatlah dia menuju Gunung Agung
melewati hutan yang terkenal angker dan berbahaya.
Setelah perjalanan panjang
Dia pun sampai di kawah Gunung Agung.
Sidi Mantra kemudian membunyikan genta
untuk memanggil Naga Besukih.
Tak berselang lama muncul sang naga dari dalam gua.
“ Apa tujuanmu datang kesini makhluk fana ?”
“ Aku minta sedikit hartamu
untuk melunasi hutang-hutang anakku,
wahai Naga Besukih.”
” Baiklah , tapi aku juga punya pesan untuk anakmu.
Sampaikan padanya untuk menggunakan harta ini dengan bijak.”
“ Terima kasih Naga Besukih.
akan kusampaikan pesanmu kepada anakku. 
 
 
Semoga dewa membalas segala kebaikanmu.”
Sidi Mantra pun pulang membawa harta dari Naga Besukih.
Sesampainya di rumah dia memberikan harta tersebut
kepada anaknya untuk melunasi semua hutangnya
serta berhenti berjudi.
Dan jika masih ada sisa agar disimpan saja.
Manik Angkeran pun berjanji
akan melakukan hal tersebut.
Akan tetapi janji hanya tinggal janji.
Kebiasaan berjudi tidak bisa hilang.
Dia menghabiskan semua harta tersebut
untuk kembali berjudi.
Dan seperti biasanya, dia kalah dari perjudian itu.
Tak lama Manik Angkeran datang menemui ayahnya
bermaksud untuk meminta uang lagi.
“ Manik ! Kau telah melanggar janjimu.
Kali ini aku tak sudi untuk membantumu lagi.”
Manik Angkeran kebingungan karena ayahnya sangat marah
dan tak mau membantunya.
Ketika duduk termenung di bawah pohon.
Lamunannya seketika buyar karena seseorang menghampiri
dan memberikan saran agar ikut ayahnya
pergi ke Gunung Agung karena dia pernah sesekali
melihat Mpu Sidi Mantra menuju kesana.
Barang kali masalahnya bisa teratasi. 
 
 
Setelah mendengar saran dari orang itu,
Manik Angkeran bergegas pulang.
Di lain sisi ternyata Sidi Mantra tak begitu tega
melihat keadaan anaknya.
Dia akhirnya memutuskan meminta
bantuan naga besukih sekali lagi.
Berangkatlah hari itu juga Sidi Mantra menuju Gunung Agung.
Ditengah perjalanan pulang,
Manik Angkeran melihat sosok yang tak asing.
Ia pun berhenti sejenak untuk memastikanya.
Ternyata benar sosok itu adalah Sidi Mantra sang ayah.
Karena dia malu dengan perbuatanya,
Manik Angkeran memilih bersembunyi sambil melihat
kemana sang ayah pergi.
kemudian memutuskan untuk mengikutinya.
Manik Angkeran bertanya-tanya
kemana kah tujuan ayahnya.
Apakah ke Gunung Agung atau ke tempat lain.
Ternyata benar,
Mpu Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung.
Manik Angkeran terus mengawasi dari kejauhan.
Nampak sang ayah berhenti di depan gua
sambil membunyikan genta.
Tiba-tiba dia melihat sesosok naga besar
keluar dari gua itu dan berbincang dengan ayahnya. 
 
 
Tampaknya naga itu memberikan harta yang banyak.
“ Ternyata harta ayah selama ini berasal
dari pemberian naga itu.
Baiklah, Aku juga bisa melakukanya.
Dari pada meminta kepada ayah
lebih baik langsung ke naga itu.
Pasti akan diberikan lebih banyak.”
Usai mendapat harta,
Sidi Mantra pulang dan tetap diikuti oleh anaknya.
Manik Angkeran berencana untuk mencuri genta
dari sang ayah agar rencananya berhasil.
Sesampainya di rumah, Sidi Mantra beristirahat
dan menunggu kepulangan anaknya dengan maksud
memberikan harta yang telah dia peroleh.
Dari kejuhan Manik Angkeran melihat
ayahnya telah tertidur lelap.
ia pun segera mengambil genta itu.
Kemudian berangkatlah Manik Angkeran
menuju Gunung Agung untuk menjalankan rencananya. 
 
 
Sesampainya di kawah Gunung Agung
manik angkeran meniru ayahnya
dengan membunyikan genta.
Mendengar bunyi itu, Naga Besukih keluar dari gua.
Meskipun sebelumnya sudah pernah melihat naga itu,
tubuh Manik Angkeran tetap gemetar ketakutan.
Dari jarak dekat sosok Naga Besukih bagaikan
mahkluk raksasa yang mampu melumatnya
dalam sekejap mata.
“ Siapa kau ?
Dan apa tujuanmu datang kesini makhluk fana ?
Kenapa kau bisa memiliki genta itu ?”
” Aku adalah Manik Angkeran,
putra Sidi Mantra.
Ayahku mengutusku untuk meminta
sedikit harta padamu. “
Di waktu yang sama,
Sidi Mantra terbangun dari tidurnya.
Ia terkejut karena melihat kotak penyimpanan
pusakanya telah terbuka.
Dan genta miliknya telah hilang.
Ia berfikir bahwa yang mengambil adalah anaknya.
Iapun menuju Gunung Agung untuk memastikan.
Naga Besukih telah mengetahui
bahwa manik angkeran berbohong.
dengan perasaan marah
Naga Besukih memberikan hartanya. 
 
 
“ Ambilah harta ini dan jangan pernah kesini lagi ! “
Ketika Naga Besukih memberikan harta.
Perhatian Manik Angkeran tertuju
pada permata besar yang berada di ekor sang naga.
Muncullah sifat tamak Manik Angkeran.
Dengan serakah dia menebas ekor Naga Besukih.
Naga Besukih kesakitan
dan berusaha mengejar Manik Angkeran.
Namun sang naga kesulitan mengejar
karena kehilangan ekornya.
Naga Besukih pun kemudian menyemburkan api
dari bekas jejak kaki Manik Angkeran.
Api itu kemudian menyambar setiap jejak kaki yang ada.
Hingga sampai pada Manik Angkeran.
dan membakar tubuhnya hingga hangus.
Sepanjang perjalanan menuju Gunung Agung,
Sidi Mantra merasakan ada yang tidak beres.
Benar saja,
ditengah jalan dia melihat anaknya
telah hangus terbakar.
Di sampingnya terdapat genta dan potongan ekor naga.
Sidi Mantra kemudian membawa sang anak
dan potongan ekor itu ke tempat Naga Besukih berada.
Dia bermaksud memohon
untuk menghidupkan Manik Angkeran kembali.
“ Aku akan menghidupkan kembali anakmu. 
Akan tetapi aku punya syarat,
kau harus menyambungkan kembali ekorku.”
“ Baiklah akan aku turuti permintaanmu.
Bilamana nanti manik angkeran hidup kembali,
saya menyerahkanya kepadamu
untuk mengabdi disini selamanya.”
Dengan kesaktianya,
ekor Naga Besukih dapat tersambung kembali.
Sang naga juga memenuhi janjinya.
Dari mulutnya keluar asap tebal.
Kemudian muncul sosok Manik Angkeran
yang sembuh seperti sedia kala.
Manik Angkeran kemudian bersujud
meminta maaf kepada ayahnya
dan berjanji tidak akan berbuat buruk lagi.
Sidi Mantra telah memaafkan anaknya
akan tetapi dia memberitahu bahwa
mereka tidak bisa hidup bersama lagi. 
 
 
Dia menyuruh anaknya untuk hidup mandiri.
Kemudian Sidi Mantra kembali menuju Daha.
Ditengah perjalanan,
dia memikirkan cara
agar putranya tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Sidi Mantra membuat garis dengan tongkatnya.
Garis itu membelah dan membagi daratan menjadi dua.
Perairan telah memisahkan keduanya.
Kedua daratan tersebut adalah Pulau Jawa
dan Pulau Bali.
Perairan diantara pulau,
kini dikenal dengan Selat Bali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *