KISAH ABU NAWAS DIKELABUI KELEDAINYA YANG PEMALAS

KISAH ABU NAWAS DIKELABUI KELEDAINYA YANG PEMALAS 1

KISAH ABU NAWAS DIKELABUI KELEDAINYA YANG PEMALAS

Assalamualaikum semuanya semoga Allah
senantiasa memberikan keberkahan kepada
kita semuanya amin ya robbal alamin suatu hari Abu Nawas pergi ke pasar
dengan mengendarai keledainya setelah
menempuh perjalanan yang cukup lumayan
jauh sampailah Abu Nawas di sebuah pasar
kemudian ia langsung menuju toko untuk
membeli sekarung garam
garam tersebut Lalu diletakkan di atas
punggung keledainya
Ayo kita pulang ucap Abu Nawas kepada si
Keledai 
KISAH ABU NAWAS DIKELABUI KELEDAINYA YANG PEMALAS 2
 
Abu Nawas lantas berjalan sambil
menuntun keledai yang berada di
belakangnya
dalam perjalanan pulang si Keledai
merasakan beban yang berat hingga
membuatnya agak kelelahan ditambah
panasnya terik matahari yang kala itu
sangat menyengat Begitu juga dengan yang
dirasakan Abu Nawas pakaiannya sampai
basah oleh keringat di tengah perjalanan
Abu Nawas memutuskan beristirahat
sebentar duduk di pinggiran sungai
sementara si Keledai yang tak kuasa
menahan panasnya matahari langsung
menceburkan dirinya ke sungai ia 
 
 
berendam agak lama yang membuat sekarung
garam yang dibawanya larut oleh air saat
si Keledai bangkit dan naik ke daratan
ia merasakan karung yang ada di
punggungnya menjadi sangat ringan dari
sebelumnya melihat hal itu Abu Nawas
merasa kesal dengan ulah keledainya
dasar keledai bodoh garamku menjadi
habis larut oleh air sungai kata Abu
Nawas geram
Abu Nawas pun pulang tanpa membawa garam
yang sudah dibelinya
esok harinya Abu Nawas kembali ke pasar
untuk membeli garam seperti biasa garam
tersebut diletakkan di atas punggung
keledainya saat dalam perjalanan pulang
si Keledai berkata dalam hati tak lama
lagi akan ada sungai di depan sana
ketika sampai di depan Sungai si Keledai 
 
 
segera menceburkan dirinya dengan
sengaja tentu saja sekarung garam yang
ada di punggungnya menjadi larut oleh
air dan bebannya menjadi ringan
asyik bebanku terasa ringan kata si
Keledai bahagia
mengetahui keledainya melakukan hal itu
dengan sengaja Abu Nawas pun menjadi
marah
dasar keledai malas bentak Abu Nawas
hari berikutnya Abu Nawas kembali ke
pasar bersama keledainya tapi kali ini
yang dibeli bukanlah garam melainkan
sekarung kapas
Abu Nawas lalu menuntun si Keledai
berjalan melintasi panasnya terik
matahari
bebannya ringan sekali tidak seperti
kemarin kalau aku ceburkan ke sungai
pasti akan lebih ringan pikir si Keledai
ketika mereka sampai di depan Sungai
tanpa 
 
 
pikir panjang si Keledai langsung
menceburkan diri namun apa yang terjadi
muatannya menjadi berat sekali rupanya
kapas itu menyerap air dan menjadi
seberat batu mau tidak mau si Keledai
harus terus berjalan dengan beban yang
ada di punggungnya
keledai berjalan sempoyongan di bawah
panasnya terik matahari
sementara Abu Nawas yang berjalan di
sampingnya tertawa sambil mengejeknya
dalam hati
rasain kamu dasar keledai malas
keesokan harinya Abu Nawas balik lagi ke
pasar untuk membeli sekarung garam tapi
kali ini si Keledai tidak berani untuk
menceburkan dirinya ke sungai ia
khawatir bebannya justru akan menjadi
lebih berat seperti yang dialaminya
kemarin dan pada akhirnya Abu 
 
 
Nawas pun
berhasil membawa sekarung garam ke
rumahnya
cerita berikutnya
dikisahkan ada seorang pemuda Yahudi
yang suka meminum Arab saking
kecanduannya baik siang maupun malam ia
selalu mendengar minuman keras suatu
hari saat bulan puasa si Pemuda
menenggak arak di bawah pepohonan yang
jaraknya tak jauh dari masjid
Padahal di bulan tersebut terdapat suatu
larangan untuk tidak meminum minuman
keras kemudian seorang sufi yang hendak
berangkat salat ke Masjid melihat si
Pemuda Tengah mabuk berat ia kemudian
singgah dan menyapa Pemuda tersebut
assalamualaikum
Siapa sang Sufi
Waalaikumsalam kemarilah Tuan duduk dan
temani aku disini kata si pemuda 

KISAH ABU NAWAS DIKELABUI KELEDAINYA YANG PEMALAS

 
di
bawah pepohonan
Apa kamu tidak malu meminum arak pada
hari yang suci ini bentak sang Sufi tapi
si Pemuda seolah tidak peduli ia malah
mengalihkan pembicaraan
Lihatlah Tuhan betapa Tuhan menciptakan
keindahan berupa pohon yang teduh dan
air mancur yang mengalir Apakah nanti di
akhirat kita tidak dibilang
menyia-nyiakan keindahan ini karena
tidak mau menikmatinya si Pemuda lalu
merayu sang Sufi untuk meminum arak
bersamanya tentu saja ajakan tersebut
ditolaknya mentah-mentah sang Sufi
semakin emosi kepada si Pemuda sehingga
terjadilah perdebatan yang cukup lama
Setelah perdebatan tersebut entah
bagaimana ceritanya sang Sufi akhirnya
tergoda untuk mencicipi meminum arak
satu kali Tetapi setelah tekukan pertama
ia kembali ingin meminumnya Kejadian ini
berulang-ulang dan akhirnya ia pun mabuk
bersama si Pemuda
mereka berdua mabuk-mabukan sampai hari
menjelang malam tidak lama kemudian
beberapa prajurit kerajaan yang sedang
tugas patroli mendapati mereka berdua
telah mabuk berat keduanya pun segera
ditangkap dan diseret ke 
 
 
pengadilan
sesampainya di ruang pengadilan Tuan
Hakim terkejut Bukan main melihat sang
Sufi tertangkap karena mabuk
Apa kamu tidak malu dengan jubahmu
Bukankah kamu seorang imam masjid bentak
sang Hakim
dengan penuh emosi Tuhan Hakim
perintahkan pengawal untuk menyeret sang
Sufi dijebloskan ke dalam penjara
Lalu siapa kamu tanya Tuan Hakim kepada
si Pemuda si Pemuda lantas memberitahu
kepada tuan Hakim siapa namanya dan Apa
agamanya
Oh jadi kamu seorang Yahudi Kalau begitu
kamu bukan muslim maka kamu saya
bebaskan ujar Tuan Hakim mendengar
keputusan tersebut sontak si pemuda
merasa bahagia karena tidak mendapatkan
hukuman namun si pemuda merasa kasihan
dengan nasib sang Sufi kemudian ia
berkata kepada tuan Hakim Tuan Hakim
apakah Tuan bersedia Apabila saya
memeluk Islam tanya si Pemuda
Oh tentu saja Jawab Tuan Hakim antusias
lalu kalau saya sudah masuk islam apakah
perbuatan saya sekarang akan mendapatkan
hukuman tanya si Pemuda Tentu saja tidak
wahai anak muda karena perbuatanmu
sekarang kamu lakukan sebelum kamu masuk
Islam tapi kalau kamu sudah masuk Islam
dan 
 
 
masih mabuk-mabukan kamu akan
mendapatkan hukuman kata tuan hakim
menjelaskan
Baiklah Tuan Hakim Saya bersedia masuk
Islam tapi saya minta satu syarat ucap
si Pemuda Apa syaratnya tanya Tuan Hakim
apabila Tuan Hakim bersedia membebaskan
Sang Sufi Saya bersedia untuk menjadi
muslim jawab si Pemuda
Tuan Hakim pun menyetujui syarat
tersebut kemudian Tuan Hakim
memerintahkan si pemuda untuk
mengucapkan dua kalimat syahadat
setelah proses menjadi muslim selesai si
Pemuda pun dipertemukan kembali dengan
sang sufi yang telah bebas
dalam perjalanan pulang si Pemuda
memulai percakapannya luar biasa agamamu
itu ujar si Pemuda Apa maksudmu tanya
sang Sufi tak mengerti
mula-mula Saya adalah orang Yahudi dan
saya berhasil menyelamatkan diri saya
sendiri kemudian saya menjadi muslim dan
saya berhasil menyelamatkanmu kawan
jawab si Pemuda mengakhiri
cerita berikutnya
sudah bertahun-tahun Baginda Raja Harun
Al Rasyid sangat ingin sekali
mengalahkan Abu Nawas Namun semua
perangkap yang selama ini dibuat 
 
 
dengan
mudahnya di atasi oleh Abu Nawas itu
karena kecerdikannya yang luar biasa
akan tetapi Baginda Raja tidak putus asa
ia masih mempunyai banyak tipu muslihat
lain untuk menjerat Abu Nawas hingga
Pada suatu hari Baginda Raja mengajak
para menterinya untuk berendam di kolam
khusus kerajaan
di tengah asyiknya mereka berendam
tiba-tiba terbersih di benak Baginda
Raja akan sebuah jebakan Baginda Raja
lalu berkata kepada para menterinya
aku mendapatkan ide untuk menjebak Abu
Nawas para menteri yang sedang ikut
berendam spontan penasaran dengan ide
sang raja
Apakah itu akibat duka yang mulia tanya
salah seorang menteri Kalian tidak perlu
tahu dulu besok akan aku undang Abu
Nawas untuk mandi bersama di sini aku
hanya menghendaki kalian supaya datang
lebih awal sebelum Abu Nawas dan jangan
lupa masing-masing dari kalian harus
membawa sebutir telur tapi jangan sampai
ketahuan Abu Nawas kata Baginda Raja
mengarahkan setelah rencana disusun
dengan matang maka pada keesokan harinya
dipanggillah Abu Nawas ke istana singkat
cerita datanglah 
 
 
Abu Nawas menghadap
Baginda Raja Tapi saat ia masuk ke dalam
istana Abu Nawas tak mendapati Baginda
Raja duduk di singgasananya
hai pengawal kemana Paduka yang mulia
tanya Abu Nawas kepada salah satu
pengawal
Paduka sedang berendam di kolam katanya
Tuan Abu sudah ditunggu Mari saya antar
ke sana Jawab si Pengawal
setelah Abu Nawas diantar ke lokasi
Kolam kerajaan ternyata para menteri
juga sedang berendam bersama Baginda
Raja
melihat Abu Nawas sudah datang Baginda
Raja langsung memanggilnya
Hai Abu Nawas kemarilah Ayo mandi
bersama kami ajak Baginda Raja
Abu Nawas tak kuasa menolak ajakan
Baginda Raja Ia pun langsung membuka
baju dan celananya dan ikut berendam di
kolam
Kamu kenapa terlihat gugup Abu Nawas
kamu takut air tanya Baginda Raja
tidak Paduka yang mulia saya sama sekali
tidak takut air justru saya adalah
perenang yang handal balas Abu Nawas
Wah hebat sekali kau Abu Nawas Kau pasti
pandai berenang seperti bebek Puji
Baginda Raja
bebek pandai berenang itu karena saya
yang melatihnya Paduka jeletuk Abu Nawas
spontan 
 
 
Baginda Raja dan para menterinya
tertawa terpingkal-pingkal
itulah yang saya suka darimu Abu Nawas
kamu selalu membuat kami ceria kata
Baginda Raja sambil terus tertawa wahai
Abu Nawas segala sesuatu yang mustahil
bila Allah menghendaki Apakah bisa
menjadi nyata tanya Baginda Raja
tentu saja bisa Paduka jawab Abu Nawas
jadi kalau Allah menghendaki manusia
bisa bertelur maka itu bisa menjadi
kenyataan pancing Baginda Raja kalau
Allah sudah berkehendak tidak ada yang
mustahil Paduka sahut Abu Nawas rupanya
tanpa Abu Nawas sadari ia mulai masuk ke
dalam jebakan Baginda Raja atas beberapa
pertanyaan yang telah diajukan
Kebetulan sekali Abu Nawas Saya
mengundangmu kemari karena saya juga
ingin mengajakmu ikut sebuah permainan
tutur Baginda Raja
permainan permainan apa Paduka tanya Abu
Nawas mulai curiga
Tadi kan kamu menjelaskan kalau Allah
menghendaki manusia pun bisa bertelur
maka dari itu saya juga ingin merasakan
bagaimana 
 
 
rasanya bertelur dan pada
permainan kali ini masing-masing dari
kita menyelam ke dalam kolam beberapa
saat Setelah itu kita tunjukkan telur
kita bagi siapa saja yang tidak bisa
bertelur maka harus dihukum kata Baginda
Raja memberitahu Mendengar hal itu wajah
Abu Nawas mendadak pucat seketika
jebakan Baginda Raja Kali ini
benar-benar penuh perhitungan dan
persiapan yang cukup matang sehingga tak
ada celah bagi Abu Nawas untuk mengakali
jebakan tersebut
Abu Nawas Hanya bisa pasrah dirinya
merasa tak akan bisa lolos dari jebakan
Baginda Raja Kali ini
melihat wajah Abu Nawas Murung membuat
Baginda Raja tersenyum puas kali ini Kau
pasti akan kalah Abu Nawas kata Baginda
Raja dalam hati
Nah sekarang apalagi yang kita tunggu
ayo kita menyelam Lalu naik ke atas
sambil menunjukkan telur kita
masing-masing perintah Baginda Raja
Baginda Raja dan para menteri mulai
menyelam kemudian naik ke atas satu
persatu dengan membawa sebutir telur
ayam
sementara Abu Nawas masih dalam keadaan 
 
 
menyelam di saat itulah otak Abu Nawas
terus bekerja mencari cara agar bisa
lolos dari jebakan
karena dadanya mulai terasa sesak Abu
Nawas cepat-cepat muncul ke permukaan
dan naik ke atas saat itu Abu Nawas
tidak menunjukkan telur ayam seperti
halnya Baginda Raja dan para menterinya
sebab Ia sama sekali tidak
mempersiapkannya beda dengan Baginda
Raja dan para menteri mereka memang
sudah mempersiapkannya dari awal
Baginda Raja pun kemudian langsung
mendekati Abu Nawas
Hai Abu Nawas mana telur kamu tanya
Baginda Raja
bukan Abu Nawas namanya kalau tidak bisa
mengatasi perangkap Baginda Raja
ampun Paduka yang mulia tadi pada
katanya apa Bisa diulangi tinta Abu
Nawas
kami semua sudah menunjukkan telurnya
sebagai bukti bahwa kami bisa bertelur
sekarang mana telurmu tanya Baginda Raja
ditanya demikian tiba-tiba Abu Nawas
bertingkah layaknya ayam jantan mulutnya
mengeluarkan suara berkokok yang
terdengar sangat keras hal ini membuat
para menteri merasa heran setelah Abu
Nawas selesai berkokok Ia pun menjawab
pertanyaan Baginda 
 
 
Raja ampun Paduka
yang mulia hamba tidak bisa bertelur
seperti Paduka raja dan para menteri
mendengar jawaban Abu Nawas Baginda Raja
merasa jebakannya kali ini benar-benar
berhasil
Kalau begitu Kau harus dihukum Abu Nawas
kata Baginda Raja dengan bangganya
Tunggu dulu wahai Paduka ujar Abu Nawas
memohon
apalagi Abu Nawas tanya Baginda Raja
tidak sabar
Paduka yang mulia sebelumnya ijinkan
saya membela diri sebenarnya kalau hamba
mau bertelur hamba tentu mampu tetapi
hamba merasa harus jadi ayam jantan
dengan begitu Sayalah yang mengawini
kalian hingga kalian bisa bertelur
Apakah Paduka tidak malu bisa bertelur
tapi tidak tahu siapa yang mengawini
tutur Abu Nawas 
 
 
penjelasan Abu Nawas tersebut membuat
Baginda Raja tidak bisa berkata apa-apa
wajah Baginda dan para menteri yang
semula cerah dengan kemenangan kini
mendadak berubah menjadi merah padam
karena merasa malu sebab secara tidak
langsung mereka dianggap ayam betina
sedangkan Abu Nawas adalah satu-satunya
ayam jantan tak kuasa menahan malu
berkepanjangan Baginda Raja segera
mengenakan pakaiannya dan meninggalkan
kolam dengan perasaan dongkol
cerita berikutnya
dikisahkan Abu Nawas mempunyai tetangga
seorang atheis ateis adalah suatu
keyakinan yang tidak mempercayai adanya
Tuhan
Meskipun demikian Abu Nawas tetap
menghormati tetangganya itu
apabila Abu Nawas mendapatkan rezeki
yang berlebih ia tak lupa membagikannya
kepada para tetangga termasuk
tetangganya yang atheis begitu pula
dengan orang atheis tersebut apabila ia
mendapatkan rezeki yang banyak Ia juga
membagikannya kepada Abu Nawas keduanya
hidup rukun dan saling menghormati
meskipun keyakinan mereka berdua tentang
Tuhan sangat bertolak belakang Namun ada
satu hal yang membuat tetangga ateis ini
tidak suka dengan perilaku Abu Nawas
setiap orang atheis ini akan berangkat
kerja Abu Nawas selalu berkata padanya
Alhamdulillah
Wa Ta’ala dirinya melintas tepat di
depan rumah Abu Nawas 
 
 
sebenarnya ucapan
tersebut bukan untuk mengolok-olok
dirinya selaku atheis karena Abu Nawas
selalu mengatakan Alhamdulillah kepada
siapapun yang lewat di depan rumahnya
dan memang sudah kebiasaan Abu Nawas
seperti itu setiap paginya
lama-kelamaan tetangga ateis ini merasa
risih dan terganggu dengan ucapan
tersebut
suatu pagi saat ia hendak berangkat
kerja ia mendapati Abu Nawas sudah duduk
di depan rumah
saat dirinya melintas tepat di depan Abu
Nawas sambil tersenyum kepadanya Abu
Nawas mengatakan Alhamdulillah
marahlah tetangga ateis ini tidak ada
Tuhan teriaknya dengan mata melotot Abu
Nawas sontak terkejut melihat
tetangganya yang tiba-tiba marah
Hai kawan Kenapa kau begitu emosi Apa
salah saya tanya Abu Nawas heran
Aku tidak suka dengan ucapanmu Jangan
ucapkan kata-kata itu di depanku bentak
orang atheis tersebut
karena tak ingin ribut dengan
tetangganya Abu Nawas memilih untuk
mengalah
Baiklah kawan saya tidak akan
mengulanginya ucap Abu Nawas
akibat kejadian itu hubungan akrab
mereka berdua menjadi renggang
sebenarnya Abu 
 
 
 
Nawas sudah berusaha
untuk tetap menjalin silaturahmi Namun
sepertinya tetangga artis tersebut
Justru malah menjauhinya
pada suatu malam Abu Nawas merasakan
lapar yang amat sangat sedangkan dirinya
tak punya uang sepeserpun untuk membeli
makanan
selepas shalat isya Abu Nawas berdoa ya
Allah saya sedang mengalami masa yang
sulit saya tidak punya uang juga tidak
punya pekerjaan berilah saya Rizki ya
Allah Malam ini saya sangat lapar saya
membutuhkan makanan ucap Abu Nawas dalam
doanya
rupanya doa Abu Nawas ini didengar oleh
tetangganya yang ateis maka munculah ide
usir di benaknya
aku akan mengerjai Abu Nawas sekaligus
membuktikan bahwa Tuhannya tidak bisa
memberinya makanan pikir tetangga ateis
tersebut kemudian tetangga artis itu
pergi ke warung untuk membeli beberapa
Potong Roti roti tersebut Lalu
dimasukkan ke dalam kantong yang besar
tak lupa Ia juga menyelipkan kertas Di
dalamnya dimana kertas itu terdapat
tulisan yang berbunyi ini bukan dari 

KISAH ABU NAWAS DIKELABUI KELEDAINYA YANG PEMALAS

Tuhanmu ini dari tetanggamu yang atheis
sepulangnya dari warung ia meletakkan
kantong besar tersebut tepat di depan
pintu rumah Abu Nawas tetangga ateis itu
lalu mengetuk pintunya dan langsung
bersembunyi di balik semak-semak ia
penasaran ingin tahu apa reaksi Abu
Nawas ketika menerima hadiah darinya
sementara Abu Nawas yang sedang khusu
berdoa segera menghentikan doanya karena
ia mendengar pintu rumahnya diketuk saat
Abu Nawas membuka pintu ia terkejut
melihat ada kantong besar di depannya
Karena penasaran ia segera membuka
kantong tersebut setelah dibuka Ternyata
isinya beberapa roti yang lezat Abu
Nawas langsung bersujud sebagai tanda
rasa syukurnya
Alhamdulillah ya Allah ucap Abu Nawas
setengah teriak namun tiba-tiba ia
ditakdirkan oleh 
 
 
 
secarik kertas yang
berada diantara tumpukan roti begitu ia
mengambil dan membacanya ternyata kertas
tersebut bertuliskan ini bukan dari
Tuhanmu ini dari tetanggamu yang atheis
sejenak Abu Nawas terdiam dia pasti
sedang mengawasiku dari suatu tempat dia
mencoba menggoda keyakinanku pikir Abu
Nawas dengan suara lantang Abu Nawas
berteriak Terima kasih ya Allah engkau
telah mengirimiku makanan melalui setan
dan setan itu pula yang membayar semua
makanan ini
tetangga artis tersebut tentu saja
Menjadi Kecewa ia tak menyangka disebut
setan oleh Abu Nawas Dasar kurang ajar
bukannya berterima kasih padaku tapi
justru berterima kasih kepada Tuhannya
malah aku disebut sebagai setan
kerudungnya dalam hati
sampai disini dulu perjumpaan kita
Semoga anda terhibur
wassalamualaikum warahmatullahi
wabarakatuh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *