Legenda Garuda Wisnu Kencana | Cerita Rakyat Bali

Legenda Garuda Wisnu Kencana | Cerita Rakyat Bali 1

Legenda Garuda Wisnu Kencana | Cerita Rakyat Bali

Dahulu kala, di sebuah negeri yang disebut dengan Pulau Dewata.
Hiduplah seorang beghawan nan arif bijaksana bernama Beghawan Kasyapa.
Dia adalah putra Beghawan Marici keturunan Dewa Brahma.
Dan merupakan ayah dari segala makhluk hidup. Seperti bangsa Naga, Garuda, Asura hingga para Wanara.
Beghawan Kasyapa menikahi empat belas puteri Shang Hyang Daksha. 
Legenda Garuda Wisnu Kencana | Cerita Rakyat Bali 2
Kadru dan Winata dua orang diantaranya.
Sifat Dewi Winata yang lemah lembut sangat bertolak belakang dengan Dewi Kadru yang memiliki sifat licik dan penuh cemburu.
Sekian lama bersama Beghawan Kasyapa. Kadru dan Winata belum juga memiliki keturunan.
Keduanya pun menghadap dan mengajukan permohonan kepada Beghawan Kasyapa.
Melihat kedua istrinya sangat mengingingkan keturunan. 
 
 
Sang Baghawan pun akhirnya memberikan telur kepada keduanya.
Yang nantinya akan menjadi anak mereka.
“ Bolehkah aku meminta telur lagi suamiku !” “ Apa kau yakin bisa merawat lebih dari yang ku berikan ?”
“ Tentu saja, itu hal yang mudah bagiku.” “ Baik, ku beri 1000 telur. Rawatlah dengan baik Kadru.”
“Apakah kau tidak meminta lagi Winata ?” “ Aku rasa, apa yang telah ku terima ini sudah lebih dari cukup.
Akan kurawat dengan segenap jiwa ragaku. “
Hari berganti, bulan berlalu, hingga ratusan tahun terlewati
namun belum ada satu pun telur-telur milik dewi Kadru nampak akan menetas.
Hingga pada suatu malam. Dewi Kadru berdoa memohon kepada sang dewa.
Semesta pun mendengar harapan dan doanya. Satu persatu telur itu retak dan muncullah sosok makhluk serupa ular
dengan mahkota mustika di kepalanya. 
 
 
Para naga terlahir sebagai makhluk sakti, yang tulus mengabdi kepada Dewi Kadru.
Namun kelak ketulusan dan pengabdian mereka akan menjadi bumerang,
karena harus mengikuti rencana licik dan curang dari sang ibu.
Melihat keceriaan antara Dewi Kadru dan putra-putranya membuat terpercik rasa iri di dalam hati Dewi Winata.
Rasa iri telah menyelinap menyeruak masuk ke dalam benak Dewi Winata.
Melihat telurnya tidak kunjung menetas, hilanglah kesabaran dalam hati. Hingga dipecahkannya salah satu telur itu.
Tiba-tiba suara tangis yang disertai erangan sakit terdengar begitu keras memekakkan telinga.
Bersamaan dengan munculnya sesosok makhluk berkepala burung, berbadan manusia tanpa kaki.
Dialah Aruna. 
 
 
Dia terlahir cacat akibat cangkang telurnya dipecahkan paksa oleh Dewi Winata.
“ Wahai ibu ! suatu saat nanti engkau akan menjadi budak, dan dari situ engkau akan belajar arti dari kesabaran. ”
“ Anakku maafkan ibumu nak ! ” “ Kelak hanya saudaraku yang bisa membebaskanmu
dari perbudakan ini . Wahai ibu. “ “ Tidak nak, maafkan ibumu nak. “
Mendengar ucapan Aruna hancurlah hati Dewi Winata. Kini hanya sesal yang tersisa.
Dia harus kembali bersabar merawat dan menunggu hingga telur yang tersisa dan satu-satunya menetas,
walaupun entah sampai kapan hal itu terjadi. 
 
 
Kehadiran 1000 naga mulai terasa melelahkan bagi Dewi Kadru Dia mulai berpikir tentang sebuah rencana untuk menjebak Dewi Winata
agar tunduk di bawah perintahnya.
“ Sekarang ini Winata hanya merawat satu telur sepertinya tak masalah jika dia juga merawat semua anak-anakku.
Aku harus menemukan cara agar dia mau melakukan itu. ”
Suatu hari, bertemulah keduanya di taman Nirwana.
Dewi kadru membuat sebuah taruhan untuk menebak warna kuda Ucchaisrawa.
Siapa yang kalah harus mengabdi seumur hidupnya pada si pemenang.
Dewi Winata tak kuasa menolak gagasan Dewi Kadru. Dengan penuh keyakinan Dewi Winata menebak.
“ Setiap orang tahu. Kuda itu berwarna putih dari kepala hingga ujung ekornya.”
“ Baik, jika engkau berkata demikian, maka aku menebaknya berwarna hitam pekat. “
Kembalinya Dewi Kadru dari taman nirwana dia bercerita kepada anak-anaknya. 
 
 
Bahwa dia bertaruh dengan Dewi Winata tentang warna kuda Ucchaisrawa.
Saat ibunya berkata bahwa kuda itu berwarna hitam, para naga kaget karena ibunya salah menebak,
sebab para naga sudah pernah melihat kuda itu berwarna putih, bukan berwarna hitam.
Mendengar ucapan para naga Dewi Kadru merasa cemas karena sudah dipastikan dia akan kalah dalam taruhan.
Kemudian dia segera mengumpulkan para naga. Diperintahkannya agar para naga
menyemburkan bisa ke tubuh Ucchaisrawa. Agar kuda tersebut berubah menjadi hitam.
Sebenarnya para naga sadar bahwa perintah sang ibu itu salah. Namun apalah daya, tak kuasa mereka menolak
apa yang diinginkan Dewi Kadru. Dengan berat hati terbanglah mereka menemui kuda Ucchaisrawa.
Setelah bertemu, para naga langsung menyemburkan bisa mereka berkali-kali.
Hingga warna putih kuda Ucchaisrawa berubah menjadi hitam legam. 
 
 
Keesokan harinya, Dewi Kadru dan Winata datang untuk menyaksikan warna kuda Uccaihsrawa.
Dan benar saja berkat usaha para naga, Dewi Kadru memenangkan taruhan sehingga Dewi Winata pun diperbudak.
“ Mulai sekarang sampai akhir hayatmu engkau harus merawat semua anak-anakku
dan menuruti semua perintahku sesuai apa yang telah kita sepakati sebelumnya.”
Kini hari-hari Dewi Winata berubah menjadi suram.
Tingkah para Naga dan perintah Dewi Kadru yang nyaris tak kenal waktu
membuatnya tak mampu lagi mengurus telur sakti yang ditinggalkan di kediamannya.
Setelah ratusan tahun menjadi budak, derita Dewi Winata mencapai titik nadir.
Tangisnya terdengar lebih memilukan dari biasanya. Dia tersadar tentang perkataan Aruna
yang kini benar-benar menjadi kenyataan dan menimpa dirinya. Di dalam sedihnya, dia berharap agar si bungsu kelak
bisa menjadi pembebas dirinya dari perbudakan.
Seolah merasakan kesedihan sang ibu. Telur terakhir di kediaman Dewi Winata bergetar, retak perlahan.
Seiring dengan bumi yang berguncang keras. 
 
 
Suara letusan gunung berapi bersautan
dan matahari yang menghilang dilahap gerhana.
Telur di kediaman Dewi Winata akhirnya terbuka. Diiringi cahaya berkilau yang membelah gelap.
Dari dalam muncul sesosok makhluk yang makin lama berubah semakin besar.
Tingginya melampaui pohon-pohon. Sayapnya perlahan mengembang, semakin besar hingga menutupi cakrawala.
Dialah Garuda, putra bungsu Dewi Winata. Sosok bertubuh manusia,
berkepala burung dengan sayap perkasa. Kelahirannya menggetarkan bumi hingga nirwana.
Garuda melesat terbang ke angkasa mencari suara tangis ibunya.
Ditemukannya sang ibu tengah terduduk, menangis di taman sepi di Nagaloka.
Bergegas Garuda melakukan sembah bakti. Sujud penuh hormat dikaki sang ibu. 
 
 
Seketika bahagia menyeruak di hati Winata melihat putra bungsunya telah lahir ke dunia.
“ Apa yang terjadi ? Kenapa dihari kelahiranku ini diiringi dengan tangismu, ibu ?
Sewaktu aku masih di dalam telur aku merasakan ketidak hadiran ibu beberapa waktu terakhir ini. “
“ Semua ini bermula ketika ibu terkena jebakan Dewi Kadru.
Yang menjadikan ibu jatuh dalam belenggu perbudakan nak. “
Gusar dan geram Garuda mendengar penuturan sang Ibu. Tanpa ragu Garuda bertekad menemui para naga
dan meminta kebebasan bagi sang ibunda.
Sesampainya Garuda dihadapan Dewi Kadru dan para naga. Dia menyampaikan permintaan pembebasan bagi sang ibu.
Mendengar itu para naga tertawa. Tak mungkin Dewi Kadru membebaskan Winata begitu saja.
Mendadak mereka teringat tentang Tirta Amertha, air keabadian yang di miliki para dewa.
Yang dapat membuat siapapun yang meminumnya dapat hidup abadi. 
 

Legenda Garuda Wisnu Kencana | Cerita Rakyat Bali

Diajukanlah Tirta Amerta sebagai syarat untuk membebaskan Dewi Winata
dari belenggu perbudakan. Mendengar hal itu Garuda menyanggupinya.
Baginya tak ada rintangan yang berat untuk memperjuangkan kemerdakaan sang ibu tercinta.
Kembali Garuda menghadap sang Ibunda. Memohon restu untuk pergi mencari Tirta Amerta.
Winata sadar perjalanan itu tidak akan mudah. Namun diapun tak mungkin menghalangi tekad anaknya.
Dewi Winata hanya berpesan pada Garuda, jika nanti Garuda merasa kelaparan saat di perjalanan.
Dia menyarankan untuk pergi ke Pulau Kusa. Di pulau itu terdapat orang-orang durjana
yang selalu berbuat kejahatan setiap harinya. Garuda boleh memakan orang-orang itu.
Akan tetapi dia dilarang memakan Brahmana, karena ayahnya juga seorang Brahmana.
Garuda diberitahu cara untuk membedakan antara orang-orang jahat dan Brahmana
yaitu ketika nanti dia tak sengaja memakan Brahmana maka tenggorokannya akan terasa panas
dan jika hal itu terjadi maka dia harus memuntahkannya.
Pergilah sang Garuda menembus cakrawala mencari Tirta Amertha demi bebasnya sang ibu. 
 
 
Setelah berhari-hari terbang diangkasa, Garuda merasa lapar. Dia memutuskan pergi ke pulau Kusa.
Sesampainya dipulau itu tanpa pikir panjang lagi Garuda menyambar seseorang yang sedang bertapa di atas tebing.
Namun, tiba-tiba tenggorokan Garuda terasa panas terbakar. Seketika dia teringat pesan sang ibu,
Garuda segera memuntahkan apa yang baru saja dilahapnya. Di hadapannya berdiri seorang Brahmana.
Yang mana itu adalah Beghawan Kasyapa, ayahnya sendiri. Garuda bersimpuh menghaturkan sembah.
Seraya meminta maaf karena tak sengaja melahapnya dan menyampaikan tujuannya untuk mencari Tirta Amerta.
Mengetahui maksud dan tujuan Garuda. Beghawan Kasyapa memberikan restu dan memerintahkan agar Garuda
pergi ke sebuah tempat di lereng Gunung Himawan. Disana ada tugas yang harus diselesaikannya
sebelum pergi untuk mengambil Tirta Amertha. Begawan Kasyapa memberikan tugas kepada Garuda
untuk memangsa kakak beradik bernama Wibawasu dan Supratika.
Agar kehidupan semesta kembali aman dan tentram. 
 
 
Dengan memakan kedua binatang itu rasa lapar Garuda akan hilang.
“Wibawasu dan Supratika itu sangat sakti dan hidup di tepian Gunung Himawan.
Akan tetapi keduanya tak pernah akur. Mereka selalu berkelahi demi memperebutkan warisan sang ayah.
Hingga memorak-porandakan Gunung Himawan.
Sampai suatu hari amarah keduanya tak terbendung lagi. Wibawasu mengutuk sang adik menjadi gajah raksasa.
Supratika juga mengutuk kakaknya menjadi kura-kura raksasa yang buruk rupanya.
Segera berangkatlah kesana dan selesaikan tugasmu anakku ! ” Garuda pun pergi melaksanakan tugas
yang telah diberikan oleh sang Ayah.
Saat Garuda terbang di angkasa. Dia melihat kakak beradik tersebut sedang bertengkar.
Dengan cepat Garuda menyambar kedua makhluk tersebut.
Setelah memakan Wibawasu dan Supratika. 
 
 
Garuda terbang dan hinggap di sebuah pohon emas
di lereng timur gunung Himawan.
Di bawah pohon tersebut tinggallah enam puluh ribu resi kurcaci kecil yang sakti,
mereka disebut kaum Walikilya. Karena ukuran tubuhnya yang besar.
Garuda tanpa sengaja mematahkan dahan pohon emas
dan hampir saja menimpa para Walikilya.
Namun dengan kesaktian mereka para walikilya dengan mudah menghindarinya.
Sadar atas kesalahannya Garuda bergegas bersimpuh memohon maaf pada para Walikilya.
Pada saat bersamaan, muncullah Begawan Kasyapa untuk menengahi sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan Garuda
hingga datang ke Gunung Himawan. Mendengar penjelasan tersebut, bermurah hatilah para Walikilya kepada Garuda.
Lagi pula dahulu para Walikilya lah yang memberikan dua telur sakti pada sang Begawan
dan kemudian menetas menjadi anak-anak Dewi Winata. 
 
 
Kemudian sang Garuda meminta restu
kepada para Walikilya sekaligus berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya.
Hari berganti hari, tibalah Garuda tiba di sebuah gua tempat menyimpan Tirta Amerta.
Nampak pusaran api yang menyambar kesana kemari seolah menghalangi siapapun untuk memasuki gua tersebut.
Bergegas Garuda terbang ke atas samudra. Diubahlah tubuhnya menjadi sangat besar dan dengan kesaktianya,
dihisap air laut sebanyak-banyaknya.
Kemudian dia terbang kembali ke mulut gua, dan menyemburkan air itu hingga pusaran api pun padam.
Sehingga dengan leluasa Garuda melangkah masuk ke dalam gua tersebut.
Garuda terdiam sejenak melihat rintangan yang ada di hadapannya, pikirannya bercabang-cabang memikirkan bagaimana cara
melewati roda Cakra yang nyaris tanpa celah. Nampak dihadapannya roda-roda Jantra atau Cakra
yang tajam berputar sangat cepat. Di sudut matanya, Garuda menangkap celah yang sangat tipis. 
 
 
Celah yang mungkin hanya bisa di lewati oleh benda sebesar jarum perak.
Namun saat itu juga Garuda mendapatkan ide. Dia menarik nafas dalam-dalam.
Dihimpunnya kesaktian dan perlahan Garuda mulai berubah dari sosok yang gagah perkasa menjadi sangat kecil.
Dengan kecepatan yang luar biasa. Garuda kemudian melesat dengan mudah melewati celah-celah roda Cakra mematikan.
Dari gua itu terdapat pintu keluar. Dihadapannya nampak sebuah Kamandhalu atau bejana berukir,
tempat disimpannya Tirta Amertha. Ditempat lain,
Bathara Indra sudah mengamati pergerakan sang Garuda. Bathara Indra diperintahkan Beghawan Wraspati untuk mencari tahu
maksud dan tujuan dari Garuda ketempat penyimpanan Tirta Amertha. Jika dirasa membahayakan, Bathara Indra harus mencegah
dan menghentikan Garuda. Sementara itu ketika Garuda ingin mengambil Kamandhalu,
sesosok tubuh dengan sinar keemasan muncul menghentikannya. 
 
 
Dialah Dewa Wisnu sang pemelihara alam semesta
Seketika Garuda mengurungkan niatnya, dia terkagum dengan sosok di hadapannya.
Garuda bersimpuh hormat menghadap Dewa Wisnu. Dia kemudian menceritakan kisahnya
mengapa harus mengambil Tirta Amerta untuk membebaskan sang ibu. Melihat ketulusan serta pengorbanan Garuda.
Luluhlah hati sang dewa. Diizinkan Garuda mengambil Tirta Amertha.
Namun dengan syarat bahwa kelak setelah berhasil membebaskan ibunya. Garuda harus kembali membawa Tirta Amertha
dan mengabdikan dirinya sebagai wahana atau tunggangan Dewa Wisnu.
Garuda pun menyetujui persyaratan sang dewa.
Setelah mengambil Tirta Amertha dan memohon restu, terbanglah dia kembali ke angkasa.
Sedari tadi Dewa Indra yang mendengar percakapan tersebut juga ikut terbang mengikuti sang Garuda.
Bathara Indra bersama Dewa lain menyerang membabi buta, melemparkan senjata pamungkasnya kearah Garuda. 
 
 
Kesaktian Garuda nyaris tanpa tanding. Tak satupun senjata dapat melukai tubuhnya.
Kepakan sayapnya yang luar biasa membuat serangan para dewa terpental.
Melihat para dewa yang tak henti menyerang. Garuda terbang secepat kilat meninggalkan para dewa.
Sampailah Garuda di Nagaloka. Melihat Garuda dapat memenuhi syarat yang ditentukan olehnya.
Dewi kadru dan dan anak-anaknya merasa sangat senang.
Dia kemudian membebaskan Dewi Winata, ibu sang Garuda dari perbudakannya.
Ketika Dewi Kadru hendak memberikan Tirta Amertha kepada anak-anaknya. Tiba-tiba datang Dewa Indra dan merebut air tersebut.
Sebagian isi Tirta Amertha jatuh ke rumput ilalang yang berdaun tajam.
Para naga berebut menjilatinya. 
 
 
Namun sayang ilalang yang berdaun tajam itu membuat lidah para naga terbelah bagian tengahnya.
“ Itulah hukuman untuk kalian semua yang bertindak serakah dan suka memperbudak orang lain.
Mulai dari sekarang seluruh keturunan kalian akan memiliki lidah bercabang.
Sebagai pelajaran bagi siapa saja yang berani berbuat sewenang-wenang. “
Garuda memenuhi janjinya kepada Dewa Wisnu. Garuda mengantarkan dewa Wisnu keseluruh penjuru bumi dan langit.
Sejak itulah sang Garuda kemudian dikenal dengan julukan Garuda Wisnu Kencana.
 
 

 

Disclamer:
Penulis adalah seorang pemerhati pendidikan anak-anak di indoneisa. Semua tulisan dan isi dalam website bloggerbanyumas.com ini adalah dirangkum, diambil, di copy dari berbagai sumber di dunia internet. Tulisan dan konten yang terdapat dalam website ini BUKAN hak cipta dari penulis bloggerbanyumas.com. Jika ada tulisan atau isi konten yang tidak sesuai dan melanggar hak cipta, silahkan hubungi penulis agar segera dihapus. Terima Kasih. jangan lupa share ke yang lain yah semoga bisa menghibur dan menambah wawasan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *