Lembu Suro Legenda Gunung Kelud | Cerita Rakyat Jawa Timur 1

Lembu Suro Legenda Gunung Kelud | Cerita Rakyat Jawa Timur

Alkisah dahulu kala,
di Jawa Timur,
ada seorang raja yang bernama
Prabu Brawijaya
yang berkuasa di Majapahit.
Sang prabu memiliki seorang putri ,
nan cantik jelita
bernama Diyah Ayu Pusparini.
Kecantikan sang putri sangat
terkenal seantero negri.
Banyak pemuda dari berbagai penjuru
mencoba meminang sang putri,
namun sia-sia
karena sang putri belum berkeinginan
untuk menikah. 
Lembu Suro Legenda Gunung Kelud | Cerita Rakyat Jawa Timur 2
 
Melihat hal itu,
sang prabu mulai gundah
memikirkan masa depan putri
tercinta dan kerajaanya.
Sang prabu ingin sekali melihat
putrinya menikah
dengan lelaki yang tepat.
Suatu hari
terlintas dalam benak sang prabu,
cara agar putri segera menikah
Maka pada suatu malam
Prabu Brawijaya mengajak putrinya
untuk berbicara empat mata.
” Ayahanda mengerti , ”
” engkau menginginkan suami yang hebat ”
” sakti mandraguna dan tampan ”
“Ayahanda memiliki ide
agar engkau segera menikah. ”
” Akan di adakan sayembara ”
” dan sayembara tersebut adalah…. ”
” bagi siapapun laki laki yang bisa
merentangkan busur Kyai Garudayaksa
dan mengangkat gong Kyai Sekardelimamaka dialah orang yang berhak
untuk mempersunting dirimu.”
Mendengar hal tersebut
sang putri sungguh terkejut,
namun tidak berani menolak
bahkan melawan permintaan
dari sang ayah.
Putri pun menyanggupinya. 
 
 
Sang prabu segera
memerintahkan pengawalnya
untuk meyebar sayembara tersebut
kepada seluruh rakyat .
dan pangeran di sekitar Majapahit.
Hari berganti hari
sang putri menjadi bingung
dengan keputusan tersebut.
Dia sering merenung.
berharap
bahwa kelak suaminya adalah
orang yang hebat dan sesuai keinginanya.
Walaupun sang putri mengetahui bahwa
busur Kyai Garudayaksa
dan gong Kyai Sekardelima
adalah pusaka yang memiliki
kekuatan dashyat.
sehingga pemenangnya pasti
bukan sembarang orang. 
 
 
Tetapi entah mengapa
hatinya merasa resah.
Akhirnya tibalah pada hari
yang telah ditentukan.
Semua peserta dari penjuru negeri
telah berkumpul di alun alun kerajaan.
Terlihat sang prabu
duduk di singgasananya
bersama permaisuri
serta putri Diah Ayu Pusparini.
Para pengawal menyiapkan
alat sayembara.
Yaitu busur Kyai Garudayaksa
dan Gong Kyai Sekardelima. 
 

Lembu Suro Legenda Gunung Kelud | Cerita Rakyat Jawa Timur

Prabu Brawijaya memukul gong
pertanda sayembara di mulai.
Secara bergantian,
peserta mulai merentangkan busur
dan mengangkat gong tersebut.
Namun tidak ada satupun
yang berhasil.
Bahkan tak jarang ada beberapa
yang mengalami musibah.
Seperti tangan yang patah
ketika mencoba merentangkan busur
dan pinggang yang cidera
akibat memaksakan mengangkat
gong besar dan berat. 
 
 
Prabu Brawijaya mulai gelisah
karena takut
tidak ada laki laki yang mampu
memenangkan sayembara ini.
Ketika sang prabu akan memukul
gong pertanda sayembara usai.
Dari kejauhan
terlihat seorang pemuda
berkepala lembu.
Dia mendekat dan berkata
kepada sang prabu.
“Ampun wahai gusti prabu ?
Apakah hamba di perkenankan
mengikuti sayembara ini ? ”
” Kamu siapa kisanak ? ”
“Saya biasa di panggil
Lembu Suro gusti prabu ! ”
” Heh !
Baiklah !
Kamu boleh mengikuti sayembara ini ! “. 
 
 
Sang prabu seakan meremehkan
dan yakin bahwa Lembu Suro
tidak akan mampu
memenangkan sayembara ini.
Dengan ilmu kanuragan Lembu Suro
merentangkan busur Kyai Garudayaksa
adalah hal yang sangat mudah.
Hal itu.
disambut riuh tepuk tangan
dari para penonton.
Namun berbeda dengan sang putri.
Dia nampak sangat cemas
karena tidak ingin bersuami
manusia berkepala lembu.
Ketika Lembu Suro bersiap untuk
mengangkat gong Kyai Sekardelima.
Semua orang nampak tegang.
Tak terkecuali sang putri,
dia sangat berharap Lembu Suro
gagal di sayembara ini.
Tetapi takdir berkata lain. 
 
 
Lembu Suro mampu mengangkat gong
tanpa ada halangan berarti.
Semua penonton bersorak sorai
Sedangkan,
putri Diyah Ayu Pusparini
hanya bisa terdiam.
Hatinya begitu hancur.
Dia tak kuasa menerima kenyataan
menikah dengan manusia
berkepala lembu.
Sambil menangis
sang putri meninggalkan acara sayembara
Melihat hal itu sang prabu
hanya bisa terkulai lemas.
Karena telah mengecewakan
putri semata wayangnya.
Walaupun begitu demi menjaga
martabat sebagai seorang prabu.
Prabu Brawijaya tetap menikahkan
putri Diyah Ayu Pusparini
dengan pemenang sayembara
yaitu Lembu Suro.
Sang putri menangis meratapi nasibnya.
Berhari hari dia mengurung
diri di kalam kamar .
Hanya diam saja melamun
dengan tatapan kosong. 
 
 
Terkang tanpa sadar
meneteskan air mata.
Melihat keadaan tuannya
yang memprihatinkan.
Seorang inang pengasuh
menasihati sang putri.
Inang pengasuh memberikan saran agar
agar sang putri membuat
satu permintaan lagi
kepada Lembu Suro,
sebagai syarat pernikahan.
Dan syarat tersebut adalah
Lembu Suro harus membuatkan
sumur di puncak gunung Kelud.
Kelak sumur tersebut sebagai
tempat mandi sang putri.
Tetapi harus diselesaikan
dalam satu malam.
Sang putri pun menerima
usulan tersebut
dan segera menyampaikan
kepada Lembu Suro.
Tanpa berfikir panjang lagi.
Berangkatlah rombongan keluarga istana
dan Lembu Suro ke puncak Gunung Kelud. 
 
 
Senja pun telah berganti malam.
Setibanya di puncak Gunung Kelud
Lembu Suro mulai menggali tanah
dengan kedua tanduknya.
bahkan tidak berselang lama
Lembu Suro telah menggali
tanah cukup dalam.
Malam semakin larut.
Sumur yang di gali semakin dalam.
Hal ini membuat sang putri semakin panik.
Sang putri mendesak ayahnya
untuk menggagalkan Lembu Suro
menyeleseikan syarat sebelum fajar tiba.
Karena tidak mau mengecewakan
putri semata wayang untuk
kedua kalinya.
Sang prabu Brawijaya
memerintahkan pengawal
untuk menimbun sumur
dengan batu dan tanah.
Tidak ada satupun yang berani
menentang perintah sang prabu.
Mereka segera melaksanakan perintah,
Walaupun Lembu Suro masih
berada di dalam sumur. 
 
Para pengawal tidak menghiraukan
teriakan Lembu Suro.
Mereka terus menutup sumur
hingga Lembu Suro terkubur didalamnya.
Meski demikian
suara Lembu Suro
masih terdengar dari luar.
Lembu suro mengucapkan
sumpah serapahnya
kepada sang prabu
dan seluruh rakyat Kediri.
” Wahai orang-orang Kediri
suatu saat akan mendapatkan
balasanku yang sangat besar.
Yaitu Kediri akan menjadi sungai,
Blitar akan menjadi daratan,
dan Tulungagung menjadi
menjadi daerah perairan dalam.” 
 
 
Karena ancaman tersebut
prabu Brawijaya dan seluruh rakyat
berusaha menangkal sumpah
dengan membuat tanggul
pengaman yang kokoh.
hingga menyerupai gunung
dan sekarang disebut dengan
Gunung Pegat.
Prabu juga mengadakan tolak bala
dengan larung sesaji
dikawah Gunung Kelud.
Akan tetapi setiap kali
Gunung Kelud erupsi
warga menganggap itu adalah
amukan Lembu Suro sebagai
balas dendam atas apa yang dilakukan
oleh prabu Brawijaya dan putrinya.
 
 

 

Disclamer:
Penulis adalah seorang pemerhati pendidikan anak-anak di indoneisa. Semua tulisan dan isi dalam website bloggerbanyumas.com ini adalah dirangkum, diambil, di copy dari berbagai sumber di dunia internet. Tulisan dan konten yang terdapat dalam website ini BUKAN hak cipta dari penulis bloggerbanyumas.com. Jika ada tulisan atau isi konten yang tidak sesuai dan melanggar hak cipta, silahkan hubungi penulis agar segera dihapus. Terima Kasih. jangan lupa share ke yang lain yah semoga bisa menghibur dan menambah wawasan.

 

By bloggerbanyumas

bloggerbanyumas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *