Putri Junjung Buih | Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Putri Junjung Buih | Cerita Rakyat Kalimantan Selatan 1

Putri Junjung Buih | Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Jauh di masa lampau
di daerah Kalimantan Selatan,
berdirilah sebuah kerajaan bernama Amuntai.
Kerajaan tersebut dipimpin oleh dua raja,
yaitu Raja Patmaraga
dan adiknya, Raja Sukmaraga.
Meskipun dipimpin oleh dua raja.
Rakyat kerajaan Amuntai terkenal makmur,
damai dan sejahtera.
Hal ini dikarenakan dua raja tersebut
mampu memerintah secara adil dan rukun.
Keduanya saling menghormati satu sama lain. 
Putri Junjung Buih | Cerita Rakyat Kalimantan Selatan 2
 
Namun sayang, ada hal yang membuat
kedua raja ini kurang bahagia.
Yaitu sama-sama belum meiliki keturunan.
Setiap malam kedua raja tersebut selalu berdoa
kepada yang maha kuasa untuk diberi keturunan.
Secara khusus Raja Sukmaraga berdoa meminta
keturunan putra kembar.
Setelah penantian yang lama
akhirnya istri Raja Sukmaraga mengandung.
Dengan penuh kebahagiaan,
setiap malam raja Sukmaraga mengelus perut istrinya
seraya berdoa.
“Semoga saja anak di kandunganmu ini
adalah putra kembar yang tampan.”
“Semoga saja kakanda,
dan menjadi anak yang berbakti kelak.”
Sembilan bulan telah berlalu.
Kini lahirlah anak dari dari raja Sukmaraga.
Dia dikaruniai putra kembar yang tampan.
Berita bahagia itu pun langsung diumumkan
kepada seluruh rakyat
serta sang kakak, raja Patmaraga.
Raja Patmaraga tentu ikut berbahagia
melihat kelahiran keponakannya.
Namun didalam hatinya muncul perasaan iri
dan semakin bertekad ingin segera memiliki anak.
Bahkan dia merasa memiliki anak perempuan
pun tak jadi masalah. 
 

Putri Junjung Buih | Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

Tentu akan dia terima dengan senang hati.
Malam harinya sebelum pergi tidur,
raja Patmaraga memanjatkan doa
pada yang maha kuasa agar diberi petunjuk.
Didalam tidurnya sang raja bermimpi.
Dia melihat sosok dirinya
sedang bertapa di Candi Agung
yang terletak di luar Kerajaan Amuntai.
Diapun terbangun dan merasa
bahwa mimpi itu terasa begitu nyata.
Keeseokan hari,
Raja Patmaraga pergi menuju Candi Agung
ditemani pengawal setianya,
Datuk Pujung.
Sesampainya di Candi Agung
sang raja berpesan kepada Datuk Pujung
untuk selalu menjaganya
agar tak ada seorang pun yang mengganggunya
ketika dia bertapa nanti.
Raja pun langsung bertapa dengan sungguh-sungguh.
Berhari-hari lamanya Raja Patmaraga bertapa.
Hingga suatu hari dia keluar dari pertapaanya,
tentu sudah disambut oleh
sang pengawal setianya Datuk Pujung.
Namun,
Sang Raja merasa belum mendapatkan apa yang
dia inginkan selama ini.
Akan tetapi,
dia yakin bahwa tuhan telah memiliki
rencana sendiri atas dirinya.
Di tengah perjalanan pulang menuju istana,
Raja Patmaraga berhenti dibawah
pohon besar nan rindang untuk beristirahat. 
 
 
Merasa cukup dengan istirahatnya,
sang raja melanjutkan perjalanan
pulang menuju istana.
Raja Patmaraga dan pengawalnya berjalan
menyusuri sebuah sungai
yang berarus cukup tenang .
Tiba tiba raja melihat sesuatu.
“ Datuk.. tidak kah kau melihat sesuatu di depan sana ?
Apakah engkau lihat apa yang aku lihat saat ini?”
“ Hamba melihatnya juga baginda.
Bukankah itu…. “
“ Itu bayi Datuk ! ”
” Bagaimana bisa ada bayi di sungai ini ! ”
Sang Raja segera menghampiri bayi itu.
Namun ketika hendak mengangkatnya.
“Tunggu dulu yang mulia !.”
Bayi itu berbicara. 
 
 
Betapa terkejutnya sang raja Patmaraga.
“ Jangan bawa aku seperti ini!
Tolong bawakan aku ,
40 dayang untuk menjemputku
serta sehelai kain yang ditenun
dalam waktu setengah hari saja. ”
Raja segera memerintahkan Datuk Pujung
untuk kembali ke istana.
“ Sampaikan pada Raja Sukmaraga,
Untuk menyiapkan semuanya.
Sebelum sore hari,
kau harus sudah kembali kesini
membawa permintaan anak ini.“
“ Baik baginda raja,
hamba pamit pergi. “
Datuk Pujung pun dengan sigap
bergegas kembali ke istana. 
 
 
Setelah sampai,
Datuk segera menghadap kepada raja Sukmaraga
dan menyampaikan pesan raja Patmaraga.
Perintah raja pun diumumkan.
“ Pengumuman !
Segera kumpulkan 40 dayang sekarang juga
dan barang siapa bisa menenun sebuah kain
dalam waktu setengah hari,
akan diangkat menjadi pengasuh bayi. ”
Sayembara itu seketika membuat warga desa gaduh.
Banyak diantara mereka ragu untuk bisa memenuhi
permintaan sang raja.
Banyak orang yang penasaran
siapa yang bisa menenun kain
dalam waktu setengah hari. 
 
 
Sementara itu,
para wanita mulai menenun kain
menggunakan benang terbaik yang mereka miliki.
Sayangnya hingga waktu yang ditentukan tiba
tak ada seorang pun yang berhasil menyelesaikannya.
Datuk Pujung pun sampai merasa putus asa.
Dia khawatir tak bisa menemukan kain yang diminta.
Dan raja Patmaraga tak bisa membawa pulang
bayi cantik yang ditemukan di sungai tadi.
Hingga ada seorang gadis muda
menawarkan hasil tenunannya.
“ Tuanku, silahkan lihat hasil tenunan hamba ini.
Tolong periksalah dengan seksama.
Apakah kain ini cukup
untuk menyelimuti bayi baginda raja ? “
” Baiklah nona. “
Di bukalah lipatan kain itu.
Datuk Pujung senang melihat hasil
kain tenun gadis itu.
“ Wahhh ini dia.
Hasil tenunan yang bagus dan lembut.
Siapakah namamu nona ? “
“ Terima kasih. 
 
 
Nama hamba Kuripan, Datuk ”
“ Kurasa kamu pantas menjadi
pengasuh bayi raja Patmaraga.
Ikutlah bersama ku
untuk menjemput sang raja.”
“ Baik datuk,
Hamba merasa sangat terhormat
jika bisa menjadi pengasuh untuk
putri Raja Patmaraga. ”
Setelah memperoleh kain tenun.
Datuk Pujung kemudian membawa Kuripan
beserta 40 dayang menuju sungai
untuk menjemput Raja Patmaraga dan bayinya.
Sesampainya disana,
sang raja menyelimutkan kain
yang ditenun oleh Kuripan untuk sang bayi.
Dia nampak begitu cantik.
“Dengan ini,
aku akan membawamu pulang ke Amuntai. 
 
 
Dan karena kamu,
aku temukan terapung di atas buih sungai,
maka aku akan memberimu nama
Putri Junjung Buih!”
Bayi tersebut menanggapinya dengan senyuman.
Seolah menyetujui ucapan Raja Patmaraga.
Kemudian sang Raja Patmaraga,
Putri Junjung Buih, Datuk Pujung, Kuripan,
beserta para dayang kembali ke istana.
Sejak saat itu kerajaan Amuntai
benar-benar diliputi kebahagiaan.
Karena kedua raja telah dikaruniai anak.
Negeri itu hidup dengan damai dan bahagia
 
 

 

Disclamer:
Penulis adalah seorang pemerhati pendidikan anak-anak di indoneisa. Semua tulisan dan isi dalam website bloggerbanyumas.com ini adalah dirangkum, diambil, di copy dari berbagai sumber di dunia internet. Tulisan dan konten yang terdapat dalam website ini BUKAN hak cipta dari penulis bloggerbanyumas.com. Jika ada tulisan atau isi konten yang tidak sesuai dan melanggar hak cipta, silahkan hubungi penulis agar segera dihapus. Terima Kasih. jangan lupa share ke yang lain yah semoga bisa menghibur dan menambah wawasan.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *