Legenda Jaka Tarub | Cerita Rakyat Jawa

Legenda Jaka Tarub | Cerita Rakyat Jawa 1

Legenda Jaka Tarub | Cerita Rakyat Jawa

Legenda Jaka Tarub Dahulu kala. Hiduplah seorang pemuda tampan
bernama Jaka Tarub.
Dia tinggal bersama ibunya yang bernama Mbok Milah.
Sedangkan sang ayah telah lama meninggal.

Jaka Tarub dan ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan bertani di sawah.
Pada suatu malam ketika Jaka Tarub sedang tertidur,
dia bermimpi menikah dengan seorang perempuan
yang cantik jelita seperti bidadari kayangan. 
Legenda Jaka Tarub
Legenda Jaka Tarub
 
Saat terbangun dari tidurnya dia
dia tersenyum senang dengan mimpinya semalam.
Bahkan sampai siang hari Jaka Tarub masih memikirkan mimpi indahnya itu.
Dia duduk di depan rumahnya sambil termenung bahagia.
Sang ibu merasa bingung melihat gelagat anaknya.

Sang ibu merasa bingung melihat gelagat anaknya.
Dia merasa tak seperti biasanya Jaka Tarub seperti ini.
Seakan tak peduli dengan kehadiran sang ibu yang sedari tadi mengamatinya,
Jaka Tarub terus terlarut dalam pikirannya tentang mimpi semalam.
Mbok Milah pun berfikir mungkin Jaka Tarub sedang memikirkan
seorang perempuan dan ingin menikah. 
Jaka Tarub adalah seorang pemuda yang handal dalam berburu.
Seperti mendiang ayahnya.
Lalu pada suatu pagi, dia memutuskan untuk pergi berburu.

Jaka Tarub mempersiapkan segala macam peralatan berburu yang dia butuhkan.
Kemudian berpamitan izin pergi kepada ibunya.
Setelah Jaka Tarub pergi,
Mbok Milah masuk kembali ke kamarnya untuk beristirahat
karena tiba-tiba dia merasa lelah.
Di hutan, Jaka Tarub berhasil memanah seekor rusa. 

Legenda Jaka Tarub | Cerita Rakyat Jawa

Hatinya puas karena hasil buruannya itu
bisa dia makan bersama ibunya untuk beberapa hari ke depan.
Saat sedang di perjalanan pulang tiba-tiba dia di hadang oleh seekor harimau.
Harimau itu nampak kelaparan, begitu garang menunjukan dua taring besarnya
bersiap untuk menerkam Jaka Tarub.

Panik karena marabahaya berada di depan mata.
Tanpa pikir panjang dia segera meninggalkan rusa yang dia bawa,
agar bisa pergi melarikan diri dengan cepat. 
 
Sekaligus sebagai umpan agar tidak disantap oleh harimau.
Harimau itu langsung memakan rusa hasil buruan Jaka Tarub.
Dirasa telah aman, Jaka Tarub berhenti dengan nafas masih terengah-engah.
Dia meluapkan kekesalannya,

merasa sangat sial karena hasil buruan satu-satunya telah hilang disantap Harimau.
“ Pertanda apakah ini, tak seperti biasanya. “
Jaka Tarub pun berjalan kembali pulang ke rumahnya
dengan rasa lapar karena dia tidak menemukan hewan buruan lagi,
selain itu dia juga tidak membawa bekal apa pun.

Saat Jaka Tarub sudah sampai di sekitar desa,
nampak banyak warga yang tergesa-gesa berjalan menuju arah yang sama dengannya.
Semakin dia mendekati rumahnya.
Semakin banyak warga yang berkumpul,
Jaka Tarub semakin bingung. Dia tidak tahu apa yang terjadi.
Saat dia memasuki rumahnya, seorang warga menepuk pundaknya
dan memeluk Jaka Tarub sambil berbisik memberitahukan sesuatu.
Ternyata ibunda Jaka Tarub telah meninggal dunia. 
 
Nampak di depannya sosok sang ibu telah terbaring kaku.
Seketika Jaka Tarub lemas dan tangisnya mengisi ruangan.
Setelah ibunya dikebumikan dan semua orang telah pulang.
Dia merasa sangat kesepian.
Karena kini dia hanya tinggal sendirian,
Jaka Tarub juga merasa bersalah karena dia belum bisa membahagiakan sang ibu.
Di hari-hari selanjutnya.

Jaka Tarub menghabiskan waktunya untuk berburu.
Dan membagikan hasil buruanya kepada warga.
Karena hanya dengan berburu Jaka Tarub bisa melupakan kesedihannya sejenak.
Hingga pada suatu hari ketika sedang berburu.

Dia merasa bosan karena tidak ada satupun hewan buruan yang dia dapat.
Merasa haus dan kelelahan dia akhirnya pergi ke arah telaga yang berada di tengah hutan.
Saat hampir sampai terdengar sayup suara wanita sedang berbincang dan tertawa kecil.
Dia berhenti sejenak.
“ Ahh ….Mana mungkin ada perempuan di tempat seperti ini. “
Namun suaranya semakin jelas saat dia mendekati telaga. 
 
Alangkah terkejutnya dia,
nampak dihadapannya tujuh orang gadis cantik yang sedang mandi di telaga itu.
Jantungnya berdegup kencang,
seolah tak percaya dengan apa yang dilihat saat ini.
Dia memperhatikan satu per satu gadis di telaga itu,
Semua berparas cantik.

Dari percakapan mereka dia tahu kalau 7 gadis itu dalah bidadari yang turun dari kayangan.
“ Apakah ini arti mimpiku waktu itu ? “
Jaka Tarub melihat tumpukan selendang bidadari di atas sebuah batu besar.
Semua selendang itu memiliki warna berbeda-beda.
Jaka Tarub berpikir jika dia mengambil salah satunya,

tentu diantara mereka tak akan bisa kembali ke kayangan.
Dengan mengendap-endap Joko Tarub mengambil selendang
yang berwarna merah dan menyembunyikannya.
Sementara itu ketika bidadari hendak kembali ke kayangan.
“ Selandangku !”

“Ada apa Nawang Wulan ?”
“ Selendangku tidak ada !
Padahal tadi aku letakan di atas batu bersama selendang kalian.
Tanpa selendang, aku tidak akan bisa terbang dan kembali ke kayangan. “
“ Ohhh tidak ! Matahari sudah hampir terbenam.

Kita harus segera kembali ke kayangan. “
“ Jangan tinggalkan aku,” – ” Maafkan kami ! “
” Aku harus bagaimana ? “
” Kami harus kembali ke kayangan. 
 
Selamat tinggal Nawang Wulan. Jaga dirimu baik-baik. “
Dari kejadian ini Jaka Tarub yang masih ditempat persembunnyiannya
mendengar bahwa bidadari yang bajunya dia ambil bernama Nawang Wulan.
Nawang Wulan kebingungan mencari dimana keberadaan selendangnya.
Dia terus mencari di tengah gelapnya hutan seorang diri.

Dari kejauhan Jaka Tarub masih terus mengawasi dan membuntuti Nawang Wulan.
Menunggu waktu yang tepat agar dia bisa berpura-pura menolong sang bidadari itu.
Sesampainya di tepi hutan, Jaka Tarub menghampiri Nawang Wulan.

Melihat kedatangan pemuda asing, Nawang Wulan nampak ketakutan.
Namun segera Jaka Tarub menjelaskan maksud dan tujuannya.
Mendengar niat baik itu Nawang Wulan mau menerima ajakan Jaka Tarub,
untuk tinggal sementara di rumahnya. 
 
Setelah tinggal bersama beberapa waktu tumbuh benih cinta diantara keduanya,
hingga akhirnya mereka pun menikah.
Dari pernikahan itu mereka dikaruniai anak perempuan berparas cantik
yang diberi nama Nawangsih.

Sejak memiliki keluarga kecil Jaka Tarub bisa menemukan kebahagiannya kembali.
Akan tetapi ada hal yang mengganjal dipikirannya.
Dia heran, padi yang ada di lumbung tak berkurang walaupun dimasak setiap hari.
Bahkan panen yang diperoleh secara teratur membuat lumbung mereka hampir tak muat lagi.
Suatu pagi saat Nawang Wulan pergi mencuci, dia menitipkan anaknya pada Jaka Tarub.

Dan berpesan pada suaminya agar jangan pernah sekalipun
membuka kukusan nasi yang sedang dia masak.
Karena sudah cukup lama istrinya pergi,
Jaka tarub ingin melihat apakah nasi itu sudah matang.
Dia pun membukanya dan lupa dengan pesan Nawang Wulan. 
 
Betapa terkejutnya dia hanya terdapat sebutir biji padi.
Pantas saja persediaan di lumbung padinya selama ini tidak pernah berkurang.
Saat Nawang Wulan sampai di rumah.
Dia begitu marah karena suaminya melupakan pesannya.
“ Kini hilang sudah kesaktianku untuk mengubah sebutir padi ini
menjadi sebakul nasi. “
“ Maafkan aku istriku.

Aku lupa dan tak tahu jika akhirnya akan seperti ini.”
Sejak hari itu Nawang Wulan harus menumbuk padi untuk dimasak
dimakan sehari-hari.
Berjalannya waktu, persediaan padi mereka semakin lama semakin menipis.
Bahkan sekarang padi yang tersisa hanya di dasar lumbung.
Sampai suatu pagi, saat sedang mengambil padi yang tersisa sedikit itu.
Nawang Wulan merasa tangannya memegang sesuatu yang lembut. 
 
Karena penasaran, Nawang Wulan terus menariknya.
Wajah Nawang Wulan seketika pucat karena terkejut melihat benda
yang baru saja dia dapatkan.
Sebuah selendang yang dia cari-cari selama ini.
Nawang Wulan merasa kecewa dan marah pada Jaka Tarub
karena sudah ditipu selama ini.
Dia kemudian segera menemui suaminya.

“ Jaka Tarub ternyata selama ini kau telah membohongiku.
Sungguh tega sekali dirimu !
Aku rela hidup menjadi manusia dibumi ini
dan ternyata kau yang mengambil selendangku.
Sekarang aku akan kembali ke kayangan. “
“ Hahh, tunggu… Jangan pergi !
Bagaimana dengan nasib Nawangsih ? “
“ Walaupun aku tak mengakui dirimu sebagai suamiku lagi. 
 
Namun Nawangsih tetaplah anakku.
Aku akan sesekali kembali untuk menyusuinya.”
“ Nawang Wulan tolong maafkan aku.
Jangan tinggalkan aku. “
Kehidupan bahagia Jaka Tarub kini telah sirna.
Kini dia hidup hanya berdua bersama bayi kecilnya.

Ketika Nawangsih ingin bertemu ibunya,
Jaka Tarub harus membakar batang padi yang diletakkan di dekat Nawangsih.
Tentunya, dengan syarat Jaka Tarub tidak boleh berada di dekatnya.
Jaka Tarub hanya bisa meratapi ini semua.
Dia tahu bahwa ini semua adalah salahnya
dan ia harus menanggung segala akibatnya.
Disclamer:
Penulis adalah seorang pemerhati pendidikan anak-anak di indoneisa. Semua tulisan dan isi dalam website bloggerbanyumas.com ini adalah dirangkum, diambil, di copy dari berbagai sumber di dunia internet. Tulisan dan konten yang terdapat dalam website ini BUKAN hak cipta dari penulis bloggerbanyumas.com. Jika ada tulisan atau isi konten yang tidak sesuai dan melanggar hak cipta, silahkan hubungi penulis agar segera dihapus. Terima Kasih. jangan lupa share ke yang lain yah semoga bisa menghibur dan menambah wawasan.

 

Baca juga  Asal Usul Banyuwangi Cerita Rakyat Jawa Timur 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *